KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

Desiran angin pagi itu berhembus pelan melewati dedaunan yang mulai rapuh dari kokohnya ranting. Warna langit pun sayu seolah menemani hari yang kelabu. Bahkan, suasana dingin merasuk hebat ke dalam Sukma. Tak bisa dipungkiri, musim hujan kali ini membawa banyak misteri, membuat siapa enggan bertanya-tanya. Namun tidak bagi Sukma ini, duduk tenang diantara dua kursi yang kini menghimpitnya. Ia menatap tetesan gerimis yang jatuh di pelataran rumah bernuansa homestay. Tak habis disitu, beberapa kali ia menatap layar ponsel dengan mata yang nanar.

Ia menoleh kearah jendela, melihat sosok terbaring lemah menonton siaran rohani di televisi sambil menghisap secangkir teh dan memakan kue kering. Sukma tak kuasa, ia mengerjapkan bola matanya mengingat bulan Desember ini yang begitu berat. Ia menyudahi melankoli pagi itu ketika namanya dipangil seseorang dari dalam kamar. “Ada orang disana?”, lirihnya. Sukma bergegas masuk menghampirinya, “aku segera datang”. Kemudian ia menatap orang tersebut begitu dalam, “kenapa menatapku seperti itu?”, tanya dia. Sukma menggelengkan kepala sambil mengusap sudut mata yang hampir basah.

Ia merapikan selimut tidur yang terlihat berantakan. “Kamu mau makan apa hari ini ?”, tanya Sukma. Sekali lagi ia hanya menggelengkan kepala. “Jodi ?”, tanya Sukma kembali. “Aku tidak ingin makan apapun”, jawab dia akhirnya. Sukma menghela nafas panjang menatap prihatin kepada manusia berwajah pujat itu. Orang tersebut bernama Jodi, sahabat Sukma yang ia kasihi seperti saudaranya sendiri. Jodi divonis mengidap penyakit yang sulit disembuhkan oleh pihak medis.

Kening Sukma terasa berat memikirkan kejadian rumit akhir-akhir ini. Ia berlalu menuju kamar mandi hendak mencuci tangan dan sedikit menenangkan diri. Namun, ia terkejut ketika menemukan setitik darah membekas diatas dinding. Ia menyentuh cairan merah tersebut dengan hati-hati. Sesaat termenung meratapi keegoisan situasi ini. Kembali ia teringat hari yang amat sangat menyakitkan, tanpa ia sadari air matanya sudah membasahi pipi. “apa salahku ?” hatinya menuntut. Sukma yang masih menatap bekas darah itu seketika sadar akan ketukan pintu tiga kali. Ia akhirnya keluar dari bilik berukuran 2 meter itu.

Suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar detakan jam dinding. Sesekali Sukma melirik kearah sahabatnya yang meringis kesakitan. Banyak pertanyaan yang perlu ia rampungkan, namun waktu tak memberi ia jeda. “Nanti waktumu kontrol !”, seru Sukma. Jodi yang masih berbaring hanya diam saja. “Mas Dian, perawat di rumah sakit waktu itu nanti yang akan datang kemari”, tutur Sukma. Lagi-lagi tidak ada jawaban dari lisan Jodi, ia masih membuang muka dari lawan bicaranya itu, justru sekarang sibuk dengan ponselnya. Siapa yang tidak muak dengan situasi ini ?

Kepala Sukma benar-benar pusing kali ini. Disatu sisi ia terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, disisi lain ia harus menerima sikap sahabatnya yang menjengkelkan. Akhirnya ia  melangkah keluar menuju ke sebuah kedai untuk mengisi daya perutnya. Tak lupa, ia membawakan sebungkus nasi padang untuk Jodi. Bagaimana pun dia adalah sahabatnya, Sukma sepenuhnya yang bertanggung jawab atas Jodi saat ini. Namun, sesampainya di penginapan tidak ada gerangan yang biasa berbaring disitu. Rasa panik menyerang hati Sukma sekarang. Ia mendekati kamar mandi, namun tidak ada. Ia menuju ke kolam renang, hasilnya pun nihil. Bahkan, ia bertanya ke penjaga homestay juga tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. “Kemana bocah tengil itu ?”, keluh Sukma.

Dua jam kemudian pintu kamar terbuka lebar memperlihatkan manusia paling menyebalkan masuk. Sukma yang sejak tadi khawatir, akhirnya bisa sedikit tenang. Kini ia duduk sambil menyilangkan kedua tangannya. Pandangannya pun terlihat mengintimidasi, menatap tajam kearah Jodi yang baru saja melewati pintu. “Dari mana saja ?”, tanya Sukma sarkas. “Bukan sesuatu yang penting”, jawab Jodi singkat. Sukma sejak tadi menahan emosi yang hampir meluap, tapi lagi lagi ia sadar harus menahan amarahnya. Jodi besikap bodo amat meskipun Sukma sudah memasang wajah masam. Ia lebih memilih pergi ke kamar mandi daripada mendengar ocehan Sukma nanti.

Sedangkan Sukma masih terpaku diatas singgah sananya setelah beberapa kali penuturannya tak digubris. Ia melihat ponsel Jodi yang tadi sempat ditinggalkan. Ia ragu untuk mengambil benda pipih itu, namun hasrat dalam diri menuntut untuk segera mengambilnya. Sukma mulai memeriksa galeri yang berisi foto dan video, tetapi tidak ada yang aneh. Sukma melanjutkan untuk membuka isi pesan di aplikasi hijau, namun tidak ada yang mencurigakan, hingga notifikasi masuk dari nomor tak dikenal. “Setelah kamu sembuh saja, kita bermain lagi. Aku tidak mau kotor jika kamu masih sakit”. Isi pesan itu sukses membuat jantung sukma berhenti berdetak. Ditambah lagi pesan tersebut ternyata dikirim dari seorang lelaki.

Sukma bergetar menatap layar benda pipih itu. Tubuhynya mati rasa seakan darah berhenti mengalir. Ia tak percaya pria yang selama ini menjadi sahabatnya adalah seorang gay. Ia menangis tersedu-sedu teringat pesan yang dikirimkan ahli medis semalam. Ia membaca pernyataan dari dokter bahwa Jodi selama ini mengidap penyakit HIV. Dan sekarang  ia tahu apa penyebab Jodi terkena penyakit itu. Dia sering melakukan hal menjijikkan di luar sana entah dengan siapa saja. Pantas saja Jodi sering mengeluh kesakitan pada area bawah miliknya, bahkan ia sering mengalami ambient, alih alih karena salah makan selama ini.

“Kau sungguh lancang !”, sontak Sukma menoleh kearah sumber suara yang mencekik telinga. Jodi berlajan tertatih merebut ponsel dari tangan Sukma. Ia menahan alat eletronik itu dengan keadaan yang masih menyala. “Jadi ini kemunafikan mu ?”, tanya Sukma akhirnya. Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Jodi. “Apakah kamu sakit berulang kali dan berbohong karena ini ?”, cecar Sukma lagi. “kebohongan apa ?, bukankah kau yang bersandiwara ?”, Jodi balik bertanya. Sukma tidak menyangka sambil menahan cairan bola mata yang mulai merembas membasahi pipi. “Kamu tahu, selama ini aku tulus merawatmu seperti saudara ku sendiri !”, isak tangis tak terbendung lagi oleh Sukma.

Sungguh dunia ini telah menipu dirinya. Tak sedikit Sukma menaruhkan apa yang ia miliki. Ia berusaha memberikan fasilitas terbaik untuk merawat Jodi. Bakan ia rela berlari kesana kemari untuk mencari apa yang diinginkan sahabatnya. Namun penghianatan akhirnya yang ia tuahi. Sedih, marah, dan rasa kecewa menjadi satu, ditambah lagi sekarang ia tahu fakta yang sebenarnya. “Kenapa kau melakukan itu ? tidakkah kau tahu apa dampak dari kebodohanmu itu ?”, bibir sukma beretar menahan pilu. “Omong kosong !”, timpal Jodi.

Tak dihiraukan oleh Jodi yang kini sedang berkutat dengan ponselnya. Sukma murka dan membanting benda itu di hadapan sang pemilik. “Kau melewati batas!”, protes Jodi yang tidak terima. “Kau yang sungguh keterlaluan!”, seru Sukma tak mau kalah. Sambil mengusap air mata, Sukma berdiri tepat dihadapan Jodi. “Dua kali kau sudah jatuh sakit seperti ini. aku pikir kau akan sadar, namun sepertinya tidak”, ucap sukma dengan suara parau.

“Jika kau tidak suka silahkan pergi dari sini. Selama ini aku tidak pernah meminta kau melakukan semua ini padaku. Kau sendiri yang datang dan aku tidak pernah memaksamu”, ucap Jodi mendekte. Sukma terkejut lantaran menerima pernyataan yang keluar dari lisan Jodi. “Tidak aku sangka, kau sungguh keterlaluan. Apa kurangnya diriku ?”, tanya sukma setengah berteriak. Jodi hanya menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyuman, “tidak ada. Tapi kau terlalu banyak tahu tentang diriku !”, timpal Jodi. “Kau kira aku tidak tahu selama ini perasaanmu padaku ?”, lanjutnya. Bibir Sukma mengatup rapat mendengar setiap kalimat yang terlontar dari mulut Jodi.

“Kau sudah tahu semua sekarang ?”, tanya Jodi menatap tajam ke arah Sukma. “Tidak ada alasan lagi kau disini. Cukup aku dan kau yang tahu!”, pungkas Jodi. Sukma yang mematung hanya bisa pasrah apapun yang ingin Jodi utarakan. Sukma menyerah dengan situasi yang amat sangat ia benci. Tidak ada yang bisa ia perbuat, ia bukan dokter yang mengerti soal medis, ia juga bukan psikiater yang bisa membicarakan perkara dengan baik. Ia hanyalah orang yang ingin mendengar keluh kesah sahabatnya, membagikan cerita, dan menemani saat sahabatnya terpuruk. Namun, kenyataan pahit yang Sukma terima dan semua usahanya nol. 

“Baiklah, tidak ada alasan lagi bagiku disini. Terimaksih telah membodohi ku selama ini!”, pungkas Sukma sambil melempar kertas medis yang dua hari ini dia simpan dan ia ingin tanyakan. Sukma melangkah keluar kamar meninggalkan Jodi yang masih duduk di atas kasur. Sesaat ia menoleh kearah Jodi, namun Jodi membuang muka seolah tak peduli dengan keperigan Sukma. Ia menutup pintu dengan keadaan pilu, sambil terisak ia meninggalkan sahabatnya itu. Sementara itu, Jodi berkutat dengan ponselnya dengan wajah yang datar. malam ini kita ketemu di homestay biasanya, aku rindu!” secarik kalimat itu berhasil ia layangkan melalui whatsapp kepada laki-laki yang tadi sempat memberinya pesan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKUNTUM BUNGA

SEPATU USANG