Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

Gambar
Desiran angin pagi itu berhembus pelan melewati dedaunan yang mulai rapuh dari kokohnya ranting. Warna langit pun sayu seolah menemani hari yang kelabu. Bahkan, suasana dingin merasuk hebat ke dalam Sukma. Tak bisa dipungkiri, musim hujan kali ini membawa banyak misteri, membuat siapa enggan bertanya-tanya. Namun tidak bagi Sukma ini, duduk tenang diantara dua kursi yang kini menghimpitnya. Ia menatap tetesan gerimis yang jatuh di pelataran rumah bernuansa homestay . Tak habis disitu, beberapa kali ia menatap layar ponsel dengan mata yang nanar. Ia menoleh kearah jendela, melihat sosok terbaring lemah menonton siaran rohani di televisi sambil menghisap secangkir teh dan memakan kue kering. Sukma tak kuasa, ia mengerjapkan bola matanya mengingat bulan Desember ini yang begitu berat. Ia menyudahi melankoli pagi itu ketika namanya dipangil seseorang dari dalam kamar. “Ada orang disana?”, lirihnya. Sukma bergegas masuk menghampirinya, “aku segera datang”. Kemudian ia menatap orang ters...

KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

Gambar
Desiran angin pagi itu berhembus pelan melewati dedaunan yang mulai rapuh dari kokohnya ranting. Warna langit pun sayu seolah menemani hari yang kelabu. Bahkan, suasana dingin merasuk hebat ke dalam Sukma. Tak bisa dipungkiri, musim hujan kali ini membawa banyak misteri, membuat siapa enggan bertanya-tanya. Namun tidak bagi Sukma ini, duduk tenang diantara dua kursi yang kini menghimpitnya. Ia menatap tetesan gerimis yang jatuh di pelataran rumah bernuansa homestay . Tak habis disitu, beberapa kali ia menatap layar ponsel dengan mata yang nanar. Ia menoleh kearah jendela, melihat sosok terbaring lemah menonton siaran rohani di televisi sambil menghisap secangkir teh dan memakan kue kering. Sukma tak kuasa, ia mengerjapkan bola matanya mengingat bulan Desember ini yang begitu berat. Ia menyudahi melankoli pagi itu ketika namanya dipangil seseorang dari dalam kamar. “Ada orang disana?”, lirihnya. Sukma bergegas masuk menghampirinya, “aku segera datang”. Kemudian ia menatap orang ters...

IBU (TAK SEMPURNA)

Gambar
                        Seberkas sinar pagi itu menembus tirai yang tertutup rapat pada rumah berinterior belanda. Hiruk pikuk suasana khas komplek melabuhi setiap telinga yang mendengar. Tak jarang wanita wanita paruh baya suka bergosip sekali memberi senyuman dusta membuat Netra muak menatapnya. “Bermuka dua!”, begitulah ia menyebut mereka yang gemar menggunjing setiap saat. Heran sekali, suka mengulurkan tangan namun merendahkan. Sungguh hati ini rasanya sakit. Bingkai jendela bercat putih bergetar memperlihatkan lambaian tangan dari balik sana, seseorang sedang memanggil bocah itu. Netra berlari masuk kedalam menemui siapa gerangan. Wajah Ayu nampak samar dipandang olehnya. Ia duduk membungkuk diatas kursi mengaitkan benang kedalam jarum jahit. Lalu menyodorkan gelas kosong sambil menunjuk kearah dapur. Netra mengangguk seolah mengerti dengan isyarat itu. “Apakah ibu membutuhkan sesuatu lagi ?”, tanya Netra. Nam...