KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

Gambar
Desiran angin pagi itu berhembus pelan melewati dedaunan yang mulai rapuh dari kokohnya ranting. Warna langit pun sayu seolah menemani hari yang kelabu. Bahkan, suasana dingin merasuk hebat ke dalam Sukma. Tak bisa dipungkiri, musim hujan kali ini membawa banyak misteri, membuat siapa enggan bertanya-tanya. Namun tidak bagi Sukma ini, duduk tenang diantara dua kursi yang kini menghimpitnya. Ia menatap tetesan gerimis yang jatuh di pelataran rumah bernuansa homestay . Tak habis disitu, beberapa kali ia menatap layar ponsel dengan mata yang nanar. Ia menoleh kearah jendela, melihat sosok terbaring lemah menonton siaran rohani di televisi sambil menghisap secangkir teh dan memakan kue kering. Sukma tak kuasa, ia mengerjapkan bola matanya mengingat bulan Desember ini yang begitu berat. Ia menyudahi melankoli pagi itu ketika namanya dipangil seseorang dari dalam kamar. “Ada orang disana?”, lirihnya. Sukma bergegas masuk menghampirinya, “aku segera datang”. Kemudian ia menatap orang ters...

SEKUNTUM BUNGA

 

Pukul empat pagi, ragaku terguncang hebat tatkala suara nyaring tengah mengisi gendang telinga. Aku kaget suara tersebut bukan hanya suara dentuman keras, namun suara yang tak asing memanggil namaku beberapa kali, hingga aku sadar bahwa itu pengurus asrama yang tengah berdiri tepat di depan aku tidur dengan memasang wajah kesal. Aku yang setengah sadar sontak segera berdiri sempoyongan mengahadap beliau yang kini masih menunjukkan muka kecut. “Pukul berapa sekarang, segera ambil wudhu!”, perintahnya, masih dengan wajah galaknya. “baik neng”, jawabku lirih. Tak lama kemudian, beliau berbalik arah, “jangan lupa, Siti dibangunkan juga. Saya akan menyiapkan tempat untuk sholat kita”. Aku hanya menganggukkan kepala mengisyaratkan aku mengerti.

 “Siti, cepat bangun!, udah jam empat shubuh. Tadi Neng Ais kesini menyuruh kita siap siap”, ucapku sambil menguncang-guncangkan bahunya. “hemm, iya tin bentar lagi nanggung mimpinya tinggal dikit”, jawabnya. “eh, kok gitu. Ayo bangun sebelum Neng Ais kesini lagi memarahi kita berdua”, sahutku masih mengguncang-guncangkan bahunya. Tetapi tidak ada jawaban lagi setelah itu, malah suara dengkuran yang ku dengar, sungguh membuatku geram. Aku merasa putus asa membujuk Siti untuk lekas bangun, sampai aku memutuskan untuk mengambil wudhu dahulu. Ditengah aku sedang bersiap pergi ke kamar mandi, notofikasi handphone ku berbunyi. Reflek jari ini membuka layar kunci tersebut dan melihat beberapa pesan yang masih belum terbaca semalam. Aku terkejut saat membaca pesan paling atas di hp ku, Mas Izul.

Detak jantung ku terpompa cepat saat melihat nama yang tertera disana adalah orang yang membuatku jatuh hati. Oh tuhan apakah ini mimpi ?, seseorang yang telah lama kurindukan tanpa ada balasan tiba-tiba memberi pesan kepadaku. Tumben sekali, dia memberi pesan di pagi buta seperti ini membuatku semakin penasaran saja. Dengan langkah kilat aku menuju kamar mandi mengambil wudhu dan menunaikan shubuhku bersama teman-teman  asrama. Suara merdu berhasil melabuh sopan ke telinga, ditambah lagi lantunan ayat suci Al-Qur’an ibu-ibu pengajian samping asrama, membuat suasana teduh. Aku yang telah selesai membersihkan diri melihat teman sekamarku Siti dihukum oleh Neng Ais di pelataran asrama tatkala ia bangun kesiangan. Aku tertawa cekikikan besama teman-teman yang lain melihat wajah cemberut Siti.

Lantas aku teringat pesan yang dilayangkan oleh Mas Izul tadi, “Oh astaga aku sampai lupa”, sambil menabok jidat. Aku niatkan masuk kedalam kamar membaca pesan masuk sejak kemarin malam, tentu pesan yang pertama aku baca dari orang spesial itu. Indera ku membulat sempurna mengetahui Mas Izul sedang ada di kota dimana aku berada sekarang. “ngapain dia kesini ?”, tanyaku sendiri. Dia mengirimkan lokasi dimana ia berada dan memintaku menemui nya siang ini. Betapa hatiku berbunga-bunga, pangeran berkuda putih datang menjemputku untuk dibawa ke istana, ahh.. seperti cerita dongeng saja. Aku tak henti tersenyum sendiri sambil menuntaskan pesan itu, hingga ku tak sadar Siti sudah kembali sejak tadi dan memperhatikanku dengan tatapan bodoh. “kenapa kamu tin, senyam senyum sendiri di kamar ?”, aku hanya menggelengkan kepala nan menyengir kuda.

Siang itu begitu terik, air keringat bercucuran membanjiri pelipisku. “Subhanallah panas sekali hari ini”, keluhku. Aku berjalan melewati ributnya lalu lintas kota dan sesekali melihat lokasi yang Mas Izul kirim. Tak perlu lama aku sudah tiba dilokasi dimana mas Izul menunggu ku. Tempat yang lumrah aku sering kunjungi bersama teman teman asrama, kafe sudut kota. Hmm.. aku menghirup aroma khas kopi dari arah aku berjalan sekarang, melihat tanaman tanaman berjajar rapi seakan menyambutku dengan sukacita. Aku tak henti-hentinya tersenyum hingga kondisi panas pun berubah jadi sejuk.

Aku mengitari pandanganku mencari dimana posisi Mas Izul berada, selang beberapa detik lambaian tangan mengarah kepadaku dari pojok kafe. Aku melihat sosok pria yang sudah lama tak tampak mata, dia memakai setelan kaos polo berwarna abu abu dengan kacamata photocromic yang biasa ia gunakan, ditambah gaya ramut cepak serta jambang tipis menambah visual ketampanannya. Lututku bergetar dan nyaris lumpuh melihat penampilannya yang tak banyak berubah tetap mempesona. “calon imam depan mata, yuk bisa yuk”, celotehanku sambil berjalan membelah rumunan manusia disana.

Dia terseyum, melihatku datang memakai baju merah muda sedang meraih kursi didepannya. “Hai fatin, lama tidak berjumpa”, sapanya tanpa menyurutkan senyuman. Aku tak mengedipkan mata sedetikpun, malah tanpa sengaja aku menelan ludah beberapa kali terlihat seperti orang bodoh, “tenang tenang, kendalikan dirimu fatin”, tuturku dalam hati. Dia menawariku minum, sampai salah satu pelayan disana datang menghampiri meja kami. “kamu pesan apa tin ?”, tanya Mas Izul. “Jus jeruk aja mas”, jawabku singkat. “Kamu udah makan ?”, lanjut mas Izul, aku hanya menangguk. Kemudian pelayan itu pergi setelah mencatat pesanan kami. Mas Izul saat ini melihatku intens membuatku salah tingkah, ”apakah ada yang salah dengan penampilanku ya ?”, batinku menggeliat.

Mas Izul mulai membuka pembicaraan, tatapannya serius dan terus saja menatapku. “Bagaimana skripsi mu, apakah ada kendala ?”, tanya nya. “Alhamdulillah tidak ada mas, semua lancar”, jawabku. “Kalau ada sesuatu kamu bisa bertanya kepadaku”, timpalnya kembali. “iya mas, terimakasih”, jawabku lagi. “Padahal aku ingin kamu repoti lo”, sahutnya. Mataku membeliak mendengar kalimat tersebut, apa maksudnya ?, “apakah ini kode dia mau ngajak ke KUA ya ?”, pertanyaan bodoh terlintas begitu saja di dalam hati. Dia sukses membatku salah tingkah dengan pernyataan tadi, mas Izul tertawa. “Kamu sudah aku anggap seperti keluarga sendiri terlepas orang tua kita adalah teman dekat”, katanya sambil membenahi kacamata. “Aku membawakan sesuatu untuk mu”, sambungnya. Dia mengeluarkan sekuntum bunga mawar dari balik punggunya, aku terkejut bukan main. “ini untukmu tin, semoga kamu suka. Dan.....”, aku menadahkan pandangannya, “dan kenapa mas ?”, tanyaku. Dia mengeluarkan surat undangan dari dalam tas dan diberikan kepada ku. “Aku juga ingin memberikan ini kepada mu”, lanjutnya. Aku mengambil undangan itu dan seketika bibirku mengatup sempurna membaca nama Faizul dan Nabila tertera disana.

Keheningan cukup panjang menyelimuti suasana yang mendadak mendung. “Dua minggu lagi aku akan menikah, aku harap kamu datang ya”, kata mas Izul. Aku terdiam tak menghiraukan katanya, aku hanya kaget melihat berita ini. “Fatin, kamu tidak apa apa kan ?”, tanya Mas Izul sambil menyentuh pundak ku. “Hmm iya mas, maaf maaf. aku pasti datang kok”, sahutku tersenyum getir. Aku menatap kembali undangan pernikahan yang ku pegang sekarang. Jantungku seolah melambat berdetak, suhu darahku tiba tiba menghangat, dan tanpa sadar pandanganku pilu saat ku teringat pertemuan dua minggu lalu dengannya.

Kini aku melihat dia sedang menyalami para tamu diatas pelaminan bersama istri sah nya. Nampak wajah yang begitu bahagia dibawah pernikan lampu dan bunga, semua orang bersorak gembira memberikan selamat kepada mereka. Aku duduk dibelakang kursi tamu menahan air mata bersama bunga mawar yang sempat ia berikan lalu. Bunga itu sudah kusam dan kelopaknya pun mulai berguguran. “Semoga kamu bahagia”, kalimat itu mengakhiri perasaan yang ku pendam selama ini sambil berlalu meninggalkan bunga mawar itu sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

SEPATU USANG