KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

Gambar
Desiran angin pagi itu berhembus pelan melewati dedaunan yang mulai rapuh dari kokohnya ranting. Warna langit pun sayu seolah menemani hari yang kelabu. Bahkan, suasana dingin merasuk hebat ke dalam Sukma. Tak bisa dipungkiri, musim hujan kali ini membawa banyak misteri, membuat siapa enggan bertanya-tanya. Namun tidak bagi Sukma ini, duduk tenang diantara dua kursi yang kini menghimpitnya. Ia menatap tetesan gerimis yang jatuh di pelataran rumah bernuansa homestay . Tak habis disitu, beberapa kali ia menatap layar ponsel dengan mata yang nanar. Ia menoleh kearah jendela, melihat sosok terbaring lemah menonton siaran rohani di televisi sambil menghisap secangkir teh dan memakan kue kering. Sukma tak kuasa, ia mengerjapkan bola matanya mengingat bulan Desember ini yang begitu berat. Ia menyudahi melankoli pagi itu ketika namanya dipangil seseorang dari dalam kamar. “Ada orang disana?”, lirihnya. Sukma bergegas masuk menghampirinya, “aku segera datang”. Kemudian ia menatap orang ters...

SEPATU USANG

 


 “Assalamualaikum bu, aku pulang.” suara nyaring datang dari seorang gadis SMA bernama Ana yang tengah berada didepan pintu rumah cat putih pertigaan kota. Ana merupakan siswi kelas dua belas yang memiliki cita-cita menjadi atlet lari nasional. Setiap sore dia menghabiskan waktu untuk melatih fisiknya berlari di jalanan kota. Saat kembali ke rumah kala itu, Ana tidak mendapati sahutan apapun dari dalam rumahnya. Dia terdiam heran, kemudian ia memutuskan membuka pintu rumah  dengan hati-hati. Dia mulai masuk keruangan utama keluarga dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah, namun dia sama sekali tidak menemukan siapapun disana temasuk sosok wanita yang dia panggil ibu itu.

Saat mulai lelah berjalan mengelilingi rumah, Ana memutuskan duduk di sofa ruang keluarga dan menyandarkan punggungnya yang terasa kaku, “tumben ibu jam segini pergi, tidak biasanya.” Gumam Ana. Beberapa saat wanita paruh baya datang mengusap pelan kepala Ana dari belakang, “sudah dari tadi datangnya nak ?”. Sontak Ana terkejut dan segera menoleh ke sumber suara tersebut, “Ibu, darimana saja tadi ?”, tanya Ana sambil memayunkan bibir.  Sesaat tidak ada jawaban yang datang hingga Ana menoleh kembali ke wanita itu, dan akhirnya ia menjawab, “Ibu tadi pergi ke dokter, tiba-tiba pinggang ibu sakit”. Wajah Ana yang mulanya kesal berubah menjadi datar ketika ibunya berdalih.

 “Bu, aku berhasil menjadi perwakilan sekolah untuk lomba lari tingkat provinsi”, ucap Ana mengalihkan topik pembicaraan. “benarkah nak ?”, ibunya tesenyum senang, “Iya bu, aku akan memberikan yang terbaik nanti“, lanjut Ana sambil unjuk gigi. “Usaha memang tidak pernah menghianati hasil”. Ana mengangguk membenarkan kalimat tersebut. “Besok aku sudah berangkat ke Surabaya untuk karantina, karena lombanya akan diadakan lusa”. Ibu Ana hanya mengedipkan kedua mata mengartikan bahwa ia mengerti. “Apakah ibu tidak apa-apa ketika aku tinggal pergi ?”, tanya Ana. Ibunya hanya mengangguk sekali. “baiklah bu, aku janji tidak akan lama seperti...” kalimat teputus oleh Ana membuat ibunya bertanya-tanya. “ah lupakan saja bu, aku ke kamar dulu”,  pamit Ana mencium punggung tangan Ibunya dan berlalu.

Dikamar, Ana sedang sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa pergi karantina besok, tanpa ia sadari ibunya berada di depan pintu mulai tadi. Ana pun menoleh, “kenapa berdiri disitu, duduklah bu”, pinta dia. Ibunya tersenyum melangkah masuk menemui putrinya. “Ibu hanya ingin memberikan ini nak”, kata sang ibu menyodorkan sepasang sepatu yang tak asing lagi bagi Ana. Gadis tersebut menghela napas panjang, “Hhhh.. kenapa sepatu ini masih ibu simpan, itu bukan milik ku”, ibunya tersenyum kembali mendengar ucapan putrinya. “Meskipun sepatu ini bukan milikmu, kamu harus memakainya, sayang jika dibuang tanpa dipakai sama sekali”, imbuh sang ibu.

Ana diam tak bergeming mengamati sepatu yang masih ada di tangan ibunya. Dia ingat betul saat pertama kali seorang pria memberi sepatu tersebut tepat di hari sebelum pria itu pergi. Ya, pria itu adalah ayah Ana yang telah meninggalkan Ibu dan dirinya sekian lama demi uang. Ayah Ana sama sekali tidak memberi kabar atau menghubunginya selama ini. Tak ada kenangan manis satu pun yang pernah ia habiskan bersama pria itu, hanya meninggalkan sepatu yang usang. “Aku tidak akan pernah memakainya sampai kapan pun bu”, ujar Ana dengan sorot wajah tak terbaca.

Ibunya mengerti tentang perasaan Ana saat ini yang kecewa kepada sang ayah. Dia juga tahu bahwa putrinya akan kesal jika harus dipaksa memakai sepatu peninggalan suaminya tersebut. Entah sejak kapan Ana menjadi sangat sensitif jika menyangkut masalah dengan Ayahnya. “Ibu tidak pernah bilang jika ayahmu pergi meninggalkan kita nak, dia berharap supaya kamu selalu merindukan dan tidak membencinya”, ujar ibu Ana. Gadis itu masih menatap kosong sepatu yang dibawa ibunya. “bagaimana aku bisa rindu, jika hanya kepahitan yang ia berikan selama ini bu”, jawabnya getir. “Itu karena kamu tidak mau membuka hati untuk percaya kepada Ayahmu”, sanggah ibunya. Ana terdiam membenarkan perkataan wanita itu. Ibunya mendekat dan memeluk tubuh Ana, “Setiap manusia memiliki kekurangan nak, tak ada satupun dari mereka selalu benar termasuk Ayahmu. Ada sejuta alasan yang mengharuskan dia pergi, tapi percayalah pasti ada makna dibalik itu semua”, jelas Ibu Ana. Gadis itu terisak saat mendengarkan kalimat ibunya.

Kesunyiaan menyelimuti ruang kamar, Ibu Ana memberikan lagi sepatu  usang kepadanya. Ana merasa berat hati harus menerima sepatu lawas tersebut. Disamping meninggalkan memori buruk tentang Ayahnya, sepatu itu juga terlihat lusuh tak terawat, mungkin saja sudah rusak. “Bu, sepatunya buruk. Ana tidak yakin sepatu ini bisa digunakan lari besok”, kritik Ana sambil membolak balikan sepatunya. Ibu Ana lagi lagi hanya tersenyum, “Ibu akan memeriksa dan memperbaiki bagian yang rusak”. Ana menemui wajah ibunya yang sedang mengambil alih sepatu itu, “Kenapa tidak membeli sepatu baru saja bu?”, tanya Ana heran. Sekali lagi Ibunya tersenyum, “Jika saja setiap orang sadar bahwa memperbaiki barang lebih baik daripada langsung membuangnya, maka itu akan lebih indah”. Ana menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, dia bingung akan ucapan ibunya barusan. “Apa maksud Ibu ?”.

Ibunya kemudian menjelaskan, “Sama seperti kehidupan nak, jika merasa kecewa jangan langsung dibuang, diperbaiki dulu yang salah dan kata maaflah sebagai pembuka kesempatan yang kedua”. Ana masih terdiam menyimak nasihat wanita didepannya. “Jika kamu punya sepatu rusak langsung dibuang kemudian membeli yang baru, sama saja kamu memiliki masalah dengan ayahmu kemudian kau lupakan dan mencari ayah yang baru”, lanjut ibu Ana sambil menahan tawa. Kedua mata Ana membulat sempurna mendengar petuah itu, “mana bisa seperti itu bu ?”. Ibunya tertawa kecil melihat ekspresi anaknya, “Oleh karena itu, yang pertama datang adalah cinta, setelahnya adalah penutup luka !”, tambah Ibu Ana sambil mengelem alas sepatu yang sedikit terbuka. Kalimat tersebut sukses membuat Ana sadar bahwa apa yang dia miliki wajib disyukuri, jika ada masalah perlu komunikasi. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan jika itu belum pasti.

Ana perlahan mengambil sepatu usang dari Ibunya. Sepatu itu ternyata pas dan cocok di kaki Ana. Satu persatu ujung tali ia masukkan kedalam lubang dengan sangat telaten. Sesekali ia melihat ke arah ibunya yang masih duduk di tepi kasur tersenyum manis kepadanya. Ana meneruskan untuk mengunci ikatan sepatu dengan menali kupu-kupu, dia merasa tidak yakin jika tali sepatunya kuat, benar saja saat mulai menarik simpul talinya putus. “Nahkan bu, talinya putus. Sudah Aku bilang kalau sepatu ini...”, dia tidak meneruskan kalimatnya, keheningan kembali memeluk ruang kamar.

“Semoga Ibu mu tenang disana”, sentuhan tangan seorang pria tepat berada dibelakang dirinya. “iya ayah”, Ana tersadar dari lamunan yang  mengingatkan percakapan dengan ibunya seminggu lalu. Pria yang dia panggil Ayah itu sudah kembali setelah mendapat kabar bahwa Istrinya meninggal dunia akibat gagal ginjal. Ana tahu bahwa Ayahnya pergi selama ini untuk mengumpulkan uang biaya operasi ibunya, bukan meninggalkan dirinya seperti apa yang dia pikirkan . Kedua orang tua Ana sepakat tidak memberitahukan kebenaran itu agar tidak mengganggu mentalnya. “Semoga hidup kita selalu diberkati”, peluk sang Ayah akhirnya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

SEKUNTUM BUNGA