KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI
Seberkas sinar pagi itu menembus tirai yang tertutup rapat pada rumah berinterior belanda. Hiruk pikuk suasana khas komplek melabuhi setiap telinga yang mendengar. Tak jarang wanita wanita paruh baya suka bergosip sekali memberi senyuman dusta membuat Netra muak menatapnya. “Bermuka dua!”, begitulah ia menyebut mereka yang gemar menggunjing setiap saat. Heran sekali, suka mengulurkan tangan namun merendahkan. Sungguh hati ini rasanya sakit.
Bingkai jendela bercat putih bergetar memperlihatkan lambaian tangan dari balik sana, seseorang sedang memanggil bocah itu. Netra berlari masuk kedalam menemui siapa gerangan. Wajah Ayu nampak samar dipandang olehnya. Ia duduk membungkuk diatas kursi mengaitkan benang kedalam jarum jahit. Lalu menyodorkan gelas kosong sambil menunjuk kearah dapur. Netra mengangguk seolah mengerti dengan isyarat itu. “Apakah ibu membutuhkan sesuatu lagi ?”, tanya Netra. Namun, beliau masih repot dengan jahitan yang ia garap.
“Bu...?”, menyentuh pundak wanita itu yang mulai rapuh. Netra menggerakkan tangan memasang mimik wajah bertanya. Ayu hanya menggelengkan kepala sambil berkata “tidak” yang terdengar kelu. Sekali lagi Netra mengangguk menandakan ia mengerti. Kini si lakon duduk memperhatikan perempuan tuna wicara tersebut. Wajahnya tak merekah seperti sedia kala. “pakaian orang lagi”, ia mengeluh. Netra terpaku dengan baju yang menggantung di sudut ruangan. Mereka terpajang cantik menggelitik mata, siapapun yang melihat pasti terpukau. Namun ia sadar, semua pakaian itu tak mungkin ia tuahi.
Netra berdiri dari persinggahannya. Hendak berlalu mengakhiri percakapan bisu ini. Ia menemui ibunya yang masih berkutat dengan mesin jahit. “Lengan seragamku sedikit sobek bu, bahkan kancingnya hilang satu”, rengeknya. Ayu menoleh ke lawan bicara. ia hanya mengangguk dan kembali bercengkrama dengan alat pencipta baju. “Hah”, bocah itu berdesis pasrah berjalan menuju dapur. Ia meneguk segelas air untuk membasahi tenggorokan yang protes sejak tadi. Percakapan pun berakhir.
Langit jingga sore itu menemani Netra. Jangan hiraukan apa kata orang nak , secarik kalimat terbubuh di kertas bergaris dua puluh lima. Begitulah lumrahnya ibu dan anak ini berkomunikasi sehari-hari. Bacah itu menemui wajah sang Ibu yang menyodorkan sesuatu kepadanya. “Apa ini bu ?”, tanya Netra heran, tetapi Ayu hanya mengedikkan bahu. Seketika, linangan cairan bening terkumpul dimata Netra. Ia memandang ibunya dengan tatapan tak percaya. “Seragam baru ?”. Wanita paruh baya itu mengiyakan menahan air mata juga. Si buah hati melompat memeluk sang ibu. “Maafkan ibu yang tidak bisa menjadi orang tua sempurna, nak”. Air mata Netra jatuh saat mendengarnya. “terimakasih, terimakasih”, ia memuji.
Komentar
Posting Komentar