KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI
Promo nendang akhir tahun, dapatkan segera barang favoritmu disini !. Suara itu terdengar dimana-mana melabuhi setiap telinga yang berada di bangunan super megah. Disetiap sudut ruangan, di tempat kasir orang-orang ingin membayar, bahkan di toilet pun dipenuhi suara yang sama. Tidak heran, hari ini akhir tahun. Banyak individu merayakan pesta setahun sekali itu, dan memadati setiap pusat perbelanjaan.
“Nak, kau jangan sampai tertinggal”, seorang pria mengenakan kacamata menuntun putranya menerobos ribuan manusia. Anak laki-laki dibelakannya mengangguk mempercepat langkah kakinya. Sempat ia melirik kearah stand tempat sepeda dipajang seperti kontes peragawan. “mereka semua keren!”, gumam bocah tersebut.
“Sepertinya kita akan terlambat pulang nak”, Ayahnya mengeluh melihat jalan yang macet sambil mengelus dahi. Disamping ia berdiri, putranya masih tak berpaling dari sepeda yang dipajang tadi. Pria itu segera menuntun kembali anaknya sambil menjinjing barang-barang belanjaan. “Ayo nak, kita lekas pulang sebelum petang”. bocah tersebut masih mematung memperhatikan Ayahnya. “Apakah kamu ingin membeli sesuatu sebelum kita pulang ?”, pria itu menawari, namun anak laki-lakinya menggeleng.
“Baiklah kalau begitu, mari kita pulang. Transportasi paling kuat sejagat sudah menunggu”, Ayahnya menunjuk kearah parkiran sepeda sambil tersenyum bangga. “Naik keledai tua lagi”, hatinya berbisik. “Ayah, apa untungnya hidup seperti ini ?”, ucap bocah tersebut. Ayahnya hanya tersenyum menatap wajah sang putra yang cemberut.
Sepanjang perjalanan pulang anak laki-laki itu hanya diam, meskipun Ayahnya yang kini sedang mengemudi beberapa kali bertanya, “Apakah kau lelah nak?”, ia hanya menggelengkan kepala. Ia menyadari bahwa orang-orang tengah memperhatikan mereka, lalu ia melihat tempat duduknya sekarang. Aneh, panas, dan tidak nyaman ia rasakan di pantatnya. Apalagi ketika ada lubang dijalan, tentu membuat boncengan sepeda bergetar mau copot, lekas ia segera memeluk ayahnya. “Pegangan yang kuat nak !”. Orang-orang yang melihat kala itu menahan tawa. Sabar ia membatin.
“Sabar membuat hati kita lebih baik”. Pria itu seakan tahu apa yang sedang putranya pikirkan. “Biarpun orang-orang melihat kita seperti apa, yang mereka lihat hanya sisi luarnya saja bukan dalamnya. Pasangan dari sabar adalah ikhlas, dari situ kita akan belajar menerima, bersyukur, dan lebih bijaksana nak”, pungkas pria tersebut. Bocah yang kini berada dibelakang diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari lisan ayahnya. Tetapi kenapa harus bersusah payah seperti ini?, hatinya terus bertanya tanya menyelimuti petang itu.
**
Mereka berhenti di sudut ruang kota berpenampilan sempurna dengan gerbang bercat putih menjulang tinggi. Seseorang berbadan tegap memakai seragam hitam putih serta alat keamanan datang menyapa, “selamat malam tuan dan tuan muda”. Pria itu tersenyum memasuki gerbang yang telah dibukakan oleh penjaga tadi. Ia melihat putranya yang masih diam diatas sepeda tua yang kini ia tuntun. “Kamu pasti bertanya kenapa tidak menggunakan mobil dan malah naik sepeda rosokan, benar ?”, laki-laki kecil itu mengangguk.
Ayahnya tersenyum, “untuk apa hidup berlimpah harta jika tidak diamalkan nak. Untuk apa pula memiliki barang mewah jika lupa siapa yang memberinya”. Putranya menatap ia dengan intens menunggu jawaban selanjutnya. “Sepeda tua ini yang selalu menemani Ayah dimasa-masa sulit sebelum seperti sekarang, mulai dari zaman Ayah masih sekolah, bekerja, berkelana, termasuk mengajak jalan – jalan ibumu dulu. Ayah hanya ingin berbagi denganmu”, Pria tersebut terkekeh.
Bocah itu menundukkan kepada. “Kamu memiliki segalanya. apa yang kita punya harus disyukuri. lihat, sepedamu di pelataran rumah sudah satu lusin”, Ayahnya tertawa sambil mencuil hidung anak semata wayangnya. Kalimat tersebut sukses membuat bocah tersebut tersipu malu, “iya Ayah”.
Komentar
Posting Komentar