KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

Gambar
Desiran angin pagi itu berhembus pelan melewati dedaunan yang mulai rapuh dari kokohnya ranting. Warna langit pun sayu seolah menemani hari yang kelabu. Bahkan, suasana dingin merasuk hebat ke dalam Sukma. Tak bisa dipungkiri, musim hujan kali ini membawa banyak misteri, membuat siapa enggan bertanya-tanya. Namun tidak bagi Sukma ini, duduk tenang diantara dua kursi yang kini menghimpitnya. Ia menatap tetesan gerimis yang jatuh di pelataran rumah bernuansa homestay . Tak habis disitu, beberapa kali ia menatap layar ponsel dengan mata yang nanar. Ia menoleh kearah jendela, melihat sosok terbaring lemah menonton siaran rohani di televisi sambil menghisap secangkir teh dan memakan kue kering. Sukma tak kuasa, ia mengerjapkan bola matanya mengingat bulan Desember ini yang begitu berat. Ia menyudahi melankoli pagi itu ketika namanya dipangil seseorang dari dalam kamar. “Ada orang disana?”, lirihnya. Sukma bergegas masuk menghampirinya, “aku segera datang”. Kemudian ia menatap orang ters...

TENTANG DIA

Fajar mengintip malu malu dari timur hendak menyapa pagi yang indah bersama tetesan embun di halaman rumah. Aku melangkahkan kaki menuju bangunan sederhana di tengah rimbunnya pepohonan. Bibir ini tak berhenti menjawab panggilan azdan yang telah berkumandang. Mata ini pun tak habis menelusuri detail rumah sederhana yang ada di depan, tidak ada yang menarik, hanya saja aku melihat ruangan dengan lampu warna kuning. Hati ini sungguh tak kuasa menahan ada apa di sana, ditambah lagi ruangan itu ternyata milik dia.

Dia siapa ?, dia orang yang berhasil membuat hatiku luluh dengan sikapnya. Sangat senang setiap kali bisa mengunjungi tempatnya, apalagi hanya untuk melihat dia berjalan menuju rumah ilmu, menahan dahaga, dan tersenyum gembira. Termasuk saat ini, aku menemui dia lagi. Aku berharap dia mengerjakan rutinitas paginya. Benar saja, aku mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari dalam kamar, “sungguh tempat yang damai”. Tapi tunggu sebentar, apa dia tidak mendengar panggilan shalat itu ?.

Aku memberanikan diri mengetuk pintu, meskipun kini aku sadar bertamu di pagi buta tidak beretika, namun aku penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Pintu ruangan terbuka sedikit memperlihatkan sosok dia di dalam sana. Aku menguatkan niat untuk mengintip dibalik pintu, “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”, salam santun ku ungkapkan setiap bertemu, tampak buku-buku berserakan di lantai, hanphone yang masih menyala memutar bacaan Al-Quran, bahkan posisi tidurnya sekarang tidak benar.

Aku mendekatinya yang pulas terbawa mimpi. Ingin sekali membangunkanya dari lelap, namun aku tidak tega, “apakah dia sangat lelah ?”, hati ini bertanya. Kaki ku mengajak diri ini mendekat hingga kini tersisa jarak satu sentimeter dengan wajahnya. Aku takut jika dia terkejut, aku juga takut jika dia marah. Ah sudahlah, alangkah lebih baik aku langsung meniup wajahnya dan berlari. Tentu dia tersadar membuka kelopak matanya yang masih sayu. Aku segera menutup wajahku, lalu dia tersenyum, “hei, apa yang sedang kau lakukan?”. Matilah aku.

Dengan ragu aku membuka kedua telapak tanganku, ia terlihat sedang membelai seekor kucing dihadapannya. “Alhamdulillah”, aku bisa bernafas lega mengatur udara masuk kedalam rongga, tak habis pikir jika aku ketahuan ada disini sedang mengamatinya. Kalbu ku terus bertanya, “kenapa dia tidak segera mengambil wudhu seperti biasanya ?”. Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul lima, ayolah segera kerjakan sujudmu. Aku akan ikut bersamamu menunaikan kewajiban menghadap illahi. Tentu, kesempatan itu yang sangat aku tunggu tunggu, memandang punggung tertutup kain suci dan mendengarkan alunan surah yang membuat hatiku bergetar. Sambil menadahkan kedua tangan untuk meminta supaya diberikan keberkahan.

Sudahlah jangan larut dalam imajinasi, coba lihat dia sedang mengajak beberapa temannya untuk shalat bersama, bahkan dengan sabar ia menunggu mereka satu persatu memenuhi barisan shaf. Aku yang masih mengintip dibalik tirai dengan jelas menyaksikan bagaimana mereka menunaikan ibadah. Diriku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya melihat dia yang tidak merubah tata krama. Bacaan surah yang indah berhasil berlabuh di telingaku, mententramkan hatiku, menyentuh jiwaku, hingga tanpa sadar lisan ini berkata aku mengagumi mu.

Ini berat, sungguh berat. Aku harus menata kembali hati ini dan meluruskan niat. “Tetapi sekedar mengagumi apakah salah ?”, batinku. Tatapan Mata yang meneduhkan membuat diriku tak bisa berpaling darinya. Dia melanjutkan langkah menuju kamar untuk mengambil bukunya, nampak dia sedikit kuyu masih terbawa suasana bunga tidur. Namun dia harus memenuhi kewajibannya untuk menimba ilmu di pagi ini.  Aku berharap supaya dia bersabar dan terus menguatkan niat untuk belajar.

Pagi itu dia lewati dengan baik. Dia menyelesaikan tugas seperti biasa, nilai istimewa, sehingga dia mendapatkan tepuk tangan dari kawannya. Dia sungguh mempesona, selalu rendah hati, ringan tangan, dan bijaksana. Tak bisa kutahan rasa kagum ini kepadanya yang selalu membuat diriku bangga. Tak heran juga, dia salah satu orang yang taat selama aku lihat, tingkah lakunya, tutur bicaranya, dan semuanya, sungguh insan yang sempurna. Ah tidak, aku beberapa kali pernah berjumpa orang macam dia. Terlebih tidak ada manusia yang sempurna kecuali Tuhan ku, maaf lisan yang tidak tahu malu ini.

Teringat waktu lalu, aku melihatnya sedang duduk meneguk air bersama seseorang yang asing bagiku. Tampak orang itu tidak baik, indranya tak sopan, dan tingkahnya jelalatan. Ingin rasanya aku siram wajah itu dengan air, namun semua itu tidak mungkin. Aku hanya bisa menggerutu kesal menyaksikan percakapan dua insan yang berlangsung lama. Lisan ini terus berucap jangan menghiraukannya, jauhi dia, sebisa mungkin pergi dari sana. Alangkah terkejutnya aku tatkala dia menolak ajakan temannya itu dengan nada lirih nan sopan. Sungguh dia berhasil merenggut hatiku.

Tak habis cerita tentang dia bila ku deskripsikan semua. Dia yang mampu membuatku jatuh cinta dan memahami betapa besarnya karunia-Nya. Dia perantara yang membuatku membuka hati menjadi mahkluk yang lebih baik, dia juga mengajarkanku arti syukur kepada yang maha kuasa. Oh Tuhan, jika aku boleh meminta, beri dia umur panjang, selalu rahmati hidupnya, tuntun supaya dia selalu dekat dengan mu hingga engkau memanggilnya. Aku tak mungkin menggapainya karena kami berbeda.

Aku hanya bisa menatap dia dalam bayangan semu, berharap dia tahu siapa aku. Bila diijinkan kan kutulis seribu surat padanya setiap hari tuk mengungkapkan betapa aku mengaguminya. Secarik pesan ini aku hadiahkan baginya yang mengisahkan sedikit tentang dia dari pengagum yang tak kasat mata.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

SEKUNTUM BUNGA

SEPATU USANG