KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI
Fajar mengintip malu malu dari
timur hendak menyapa pagi yang indah bersama tetesan embun di halaman rumah. Aku
melangkahkan kaki menuju bangunan sederhana di tengah rimbunnya pepohonan.
Bibir ini tak berhenti menjawab panggilan azdan yang telah berkumandang. Mata
ini pun tak habis menelusuri detail rumah sederhana yang ada di depan, tidak ada
yang menarik, hanya saja aku melihat ruangan dengan lampu warna kuning. Hati ini
sungguh tak kuasa menahan ada apa di sana, ditambah lagi ruangan itu ternyata
milik dia.
Dia
siapa ?, dia orang yang berhasil membuat hatiku luluh dengan sikapnya.
Sangat senang setiap kali bisa mengunjungi tempatnya, apalagi hanya untuk
melihat dia berjalan menuju rumah ilmu, menahan dahaga, dan tersenyum gembira.
Termasuk saat ini, aku menemui dia lagi. Aku berharap dia mengerjakan rutinitas
paginya. Benar saja, aku mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari dalam
kamar, “sungguh tempat yang damai”. Tapi tunggu sebentar, apa dia tidak
mendengar panggilan shalat itu ?.
Aku memberanikan diri mengetuk
pintu, meskipun kini aku sadar bertamu di pagi buta tidak beretika, namun aku
penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Pintu ruangan terbuka sedikit
memperlihatkan sosok dia di dalam sana. Aku menguatkan niat untuk mengintip
dibalik pintu, “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”, salam santun ku
ungkapkan setiap bertemu, tampak buku-buku berserakan di lantai, hanphone yang
masih menyala memutar bacaan Al-Quran, bahkan posisi tidurnya sekarang tidak
benar.
Aku mendekatinya yang pulas
terbawa mimpi. Ingin sekali membangunkanya dari lelap, namun aku tidak tega,
“apakah dia sangat lelah ?”, hati ini bertanya. Kaki ku mengajak diri ini
mendekat hingga kini tersisa jarak satu sentimeter dengan wajahnya. Aku takut
jika dia terkejut, aku juga takut jika dia marah. Ah sudahlah, alangkah lebih
baik aku langsung meniup wajahnya dan berlari. Tentu dia tersadar
membuka kelopak matanya yang masih sayu. Aku segera menutup wajahku, lalu dia
tersenyum, “hei, apa yang sedang kau lakukan?”. Matilah aku.
Dengan ragu aku membuka kedua
telapak tanganku, ia terlihat sedang membelai seekor kucing dihadapannya. “Alhamdulillah”,
aku bisa bernafas lega mengatur udara masuk kedalam rongga, tak habis pikir
jika aku ketahuan ada disini sedang mengamatinya. Kalbu ku terus bertanya,
“kenapa dia tidak segera mengambil wudhu seperti biasanya ?”. Tanpa sadar waktu
sudah menunjukkan pukul lima, ayolah segera kerjakan sujudmu. Aku akan ikut
bersamamu menunaikan kewajiban menghadap illahi. Tentu, kesempatan itu yang
sangat aku tunggu tunggu, memandang punggung tertutup kain suci dan
mendengarkan alunan surah yang membuat hatiku bergetar. Sambil menadahkan kedua
tangan untuk meminta supaya diberikan keberkahan.
Sudahlah jangan larut dalam
imajinasi, coba lihat dia sedang mengajak beberapa temannya untuk shalat
bersama, bahkan dengan sabar ia menunggu mereka satu persatu memenuhi barisan
shaf. Aku yang masih mengintip dibalik tirai dengan jelas menyaksikan bagaimana
mereka menunaikan ibadah. Diriku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya
melihat dia yang tidak merubah tata krama. Bacaan surah yang indah berhasil
berlabuh di telingaku, mententramkan hatiku, menyentuh jiwaku, hingga tanpa
sadar lisan ini berkata aku mengagumi mu.
Ini berat, sungguh berat. Aku
harus menata kembali hati ini dan meluruskan niat. “Tetapi sekedar mengagumi
apakah salah ?”, batinku. Tatapan Mata yang meneduhkan membuat diriku tak bisa
berpaling darinya. Dia melanjutkan langkah menuju kamar untuk mengambil
bukunya, nampak dia sedikit kuyu masih terbawa suasana bunga tidur. Namun dia
harus memenuhi kewajibannya untuk menimba ilmu di pagi ini. Aku berharap supaya dia bersabar dan terus
menguatkan niat untuk belajar.
Pagi itu dia lewati dengan
baik. Dia menyelesaikan tugas seperti biasa, nilai istimewa, sehingga dia
mendapatkan tepuk tangan dari kawannya. Dia sungguh mempesona, selalu rendah
hati, ringan tangan, dan bijaksana. Tak bisa kutahan rasa kagum ini
kepadanya yang selalu membuat diriku bangga. Tak heran juga, dia salah satu
orang yang taat selama aku lihat, tingkah lakunya, tutur bicaranya, dan
semuanya, sungguh insan yang sempurna. Ah tidak, aku beberapa kali pernah
berjumpa orang macam dia. Terlebih tidak ada manusia yang sempurna kecuali
Tuhan ku, maaf lisan yang tidak tahu malu ini.
Teringat waktu lalu, aku
melihatnya sedang duduk meneguk air bersama seseorang yang asing bagiku. Tampak
orang itu tidak baik, indranya tak sopan, dan tingkahnya jelalatan. Ingin rasanya
aku siram wajah itu dengan air, namun semua itu tidak mungkin. Aku hanya bisa
menggerutu kesal menyaksikan percakapan dua insan yang berlangsung lama. Lisan ini
terus berucap jangan menghiraukannya, jauhi dia, sebisa mungkin pergi dari
sana. Alangkah terkejutnya aku tatkala dia menolak ajakan temannya itu dengan
nada lirih nan sopan. Sungguh dia berhasil merenggut hatiku.
Tak habis cerita tentang dia bila ku deskripsikan semua. Dia yang mampu membuatku jatuh cinta dan memahami betapa besarnya karunia-Nya. Dia perantara yang membuatku membuka hati menjadi mahkluk yang lebih baik, dia juga mengajarkanku arti syukur kepada yang maha kuasa. Oh Tuhan, jika aku boleh meminta, beri dia umur panjang, selalu rahmati hidupnya, tuntun supaya dia selalu dekat dengan mu hingga engkau memanggilnya. Aku tak mungkin menggapainya karena kami berbeda.
Aku hanya bisa menatap dia dalam bayangan semu, berharap dia tahu siapa aku. Bila diijinkan kan kutulis seribu surat padanya setiap hari tuk mengungkapkan betapa aku mengaguminya. Secarik pesan ini aku hadiahkan baginya yang mengisahkan sedikit tentang dia dari pengagum yang tak kasat mata.
Komentar
Posting Komentar