KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

Gambar
Desiran angin pagi itu berhembus pelan melewati dedaunan yang mulai rapuh dari kokohnya ranting. Warna langit pun sayu seolah menemani hari yang kelabu. Bahkan, suasana dingin merasuk hebat ke dalam Sukma. Tak bisa dipungkiri, musim hujan kali ini membawa banyak misteri, membuat siapa enggan bertanya-tanya. Namun tidak bagi Sukma ini, duduk tenang diantara dua kursi yang kini menghimpitnya. Ia menatap tetesan gerimis yang jatuh di pelataran rumah bernuansa homestay . Tak habis disitu, beberapa kali ia menatap layar ponsel dengan mata yang nanar. Ia menoleh kearah jendela, melihat sosok terbaring lemah menonton siaran rohani di televisi sambil menghisap secangkir teh dan memakan kue kering. Sukma tak kuasa, ia mengerjapkan bola matanya mengingat bulan Desember ini yang begitu berat. Ia menyudahi melankoli pagi itu ketika namanya dipangil seseorang dari dalam kamar. “Ada orang disana?”, lirihnya. Sukma bergegas masuk menghampirinya, “aku segera datang”. Kemudian ia menatap orang ters...

HUJAN (PENANTIAN)

 

Rintikan hujan dibulan april, tepatnya sabtu sore yang begitu mendung sudah membasahi pelataran kota. Ah, wajar sekali penutup musim basah bulan ini semakin sering turun hujan. Sungguh menyebalkan, semua orang jadi sulit beraktifitas dan malas pergi keluar rumah. Annetha yang masih berdiri di depan gerbang sekolah menatap langit yang menagis sambil mendekap tangannya karena kedinginan. Sesekali dia memandangi layar ponselnya berharap ada pesan masuk, “Ada dimana dia, katanya janji hari ini mau dijemput”, gumam gadis itu. Hujan semakin deras, kendaraan berlalu lalang melintasi jalan seolah tak peduli keberadaan dia disana. Annetha berjongkok karena kakinya mulai terasa pegal, “kenapa hujannya tak kunjung reda”, Annetha yang gelisah kembali menatap langit yang kusam.

 “Sudah lama nunggin, Net ?”, suara laki-laki memecah lamunan Annetha. “Tidak lama kok Ren, hanya satu jam”, ucap Annetha sinis. “Maafin aku Net, tadi jalanan sangat macet dan sempat ada kecelakaan dijalan, makanya aku telat jemputnya”, jelas Narendra nama laki-laki tersebut. “hahaha... oke tidak masalah kok, aku yang seharusnya minta maaf Ren karena merepotkanmu hari ini”, balas Annetha tersenyum manis.  Narendra yang saat itu berada di depan Annetha merasakan jantungnya berdegup cepat, apalagi ketika Annetha mulai mendekat bermaksud ikut menaiki motornya, pasalnya Narendra sudah lama menaruh hati pada Annetha.

“Apakah kita akan lanjut jalan Ren ?”, tanya Annetha. “Emm... iya, oh tidak”, Narendra benar benar gugup, karena sebelumnya dia tidak pernah berbicara sedekat ini dengan Annetha. Dia hanya bicara lewat telpon atau whatsapp dan kadang menyapa saat bertemu di jalan itupun sebentar. “kamu kenapa Ren, wajahmu merah. Apakah kamu sakit?”, Annetha semakin dekat mengamati wajah Narendra yang terlihat seperti kepiting rebus. “Tidak tidak, aku hanya sedikit alergi terhadap air hujan”, jawab Narendra cepat menghindari tatapan Annetha. “Kamu kan tidak membawa mantel, jadi kita tunggu aja Net sampai hujannya agak mereda”, ujar Narendra yang mulai salah tingkah. Annetha mengangguk menandakan dia mengerti akan perkataan lawan bicara.

Narendra segera turun dari motornya bermaksud melepas jas hujan yang tengah dia pakai, namun Annetha menahan “kenapa jas hujannya mau kamu lepas?”, Narendra melirikkan mata tengah mencari alasan yang tepat, ”tidak apa apa, aku merasa lengket memakai jas hujan ini”. Annetha tertawa mendengar ucapan Narendra, ”tidak usah sungkan gitu Ren, aku tidak masalah kok meskipun kamu tetap memakai jas hujan”. Narendra bingung mau mengatakan apalagi kepada Annetha sambil menggaruk-garuk kepala. Tingkah lucu Narendra justru membuat Annetha semakin tertawa melihat wajah dia yang polos. Berbeda dengan Narendra, yang tersenyum melihat gadis tersebut tertawa karena ia tak pernah tahu selama ini.

Hujan mulai reda, Narendra yang sedang berjongkok bersebelahan dengan Annetha masih merasa kaku untuk mengajak gadis itu bicara, sebab hari ini Narendra berencana mengungkapkan perasaannya kepada Annetha. “Net, setelah ini kita pergi ke toko buku dulu ya. Aku ingin membeli sesuatu untuk ibu ku”, ucap Narendra sedikit tebata-bata. Annetha hanya mengangguk menuruti permintaan lelaki itu. Narendra segera berdiri sambil mengadahkan tangannya untuk memastikan hujan benar-benar reda.“Sepertinya hujan sudah berhenti. Ayo kita jalan”, ucap Narendra kembali. Annetha segera berdiri menyusul Narendra yang sudah mendahului menaiki motor.

“Net, kamu pakai jaket di dalam tas ku supaya tidak kedinginan”, tawar Narendra sambil menginjak porseneling dua. “kamu nggak pakai jaket juga Ren ?”, Annetha balik bertanya. “Tidak, kamu saja yang pakai. Aku tahu kamu kedinginan”, jawab Narendra melajukan motor semakin cepat. Aroma hujan tengah menyelimuti sepasang muda mudi yang berboncengan di atas motor CBR bewarna putih itu, Narendra yang melirik ke arah spion motor mendapati Annetha sedang menikmati suasana kota. “Kamu nggak pegangan Net ?”, tanya Narendra membelah keheningan setelah Annetha memakai jaket tadi. “Sudah kok”, jawab Annetha singkat. Narendra kali ini bingung mau mulai dari mana membuka percakapan untuk menyatakan perasaan hatinya.

Mereka berhenti di tepi persimpangan jalan karena lampu merah sedang menyala. Narendra kembali melirik ke arah spion, “Net, boleh aku bertanya ?” tanya Narendra. “boleh, tanya aja”, jawab Annetha. “Tapi masalah pribadi”, lanjutnya ragu. Annetha sesaaat diam tidak merespon akan perkataan laki-laki itu, tapi akhirnya membolehkan. “Apakah kamu punya pacar ?”, tanya Narendra berani, “belum punya Ren", jawab Annetha pelan. Ada perasaan senang terselip dihati Narendra karena mengetahui wanita yang dia inginkan belum memiliki kekasih. “Jika menyukai seseorang, apakah pernah ?”, tanya Narendra kembali. Annetha hanya tesenyum kemudian menoleh ke arah samping, “pernah, aku menyukai seseorang di dekatku”, kata Annetha menatap seseorang mengendarai CBR merah yang tengah berhenti disampingnya.

Paras tampan dengan rahang tegas ada dibalik helmet laki-laki yang kini berhenti disebelahnya. Annetha tahu betul dia adalah Nawashi kakak tingkat yang jadi idola para wanita. Annetha sebenarnya sudah lama menyukai laki-laki itu mulai dari pertama masuk sekolah, namun dia tidak pernah berani mendekat karena takut kecewa. Sementara itu, Narendra merasa bahagia mendengar jawaban Annetha yang kini masih tak berpaling dari arahnya memandang.  Narendra mengira bahwa jawaban tersebut untuk dirinya, sehingga dia berulangkali tersenyum merekah diwajahnya. Suara Narendra yang begitu gembira sontak membuyarkan tatapan memuja Annetha kepada Nawashi kala itu.

Kini lampu hijau sudah menyala, Narendra melajukan motornya kembali menuju toko buku yang berada diseberang jalan. Saat tiba di toko, Narendra sibuk mencari buku resep makanan untuk ibunya, sedangkan Annetha berjalan  kearah rak buku yang menyediakan novel cerita fiksi. “Tidak ada yang menarik dari buku fiksi disini, rata rata bercerita tentang sepasang kekasih yang saling mengumbar asmara”, Annetha bergumam sambil memegangi dagu. Dia sekali lagi mengedarkan pandangannya menelusuri rak-rak buku, dia tidak sengaja menemukan buku berjudul ‘Love Story’, kemudian dia langsung menggapainya. “Sepertinya buku ini bagus”, ujar Annetha meneliti.

“Net, kamu membeli buka apa ?”, suara Narendra menyapa dari belakang. Annetha segera menoleh kearah suara tersebut, “Aku tertarik dengan buku ini, jadi aku ingin membelinya”, jawab Annetha. “Ya sudah ambil saja, mari kita ke kasir”, ajak Narendra menggerakkan telunjuknya. Annetha hanya membalas dengan anggukan. “Oiya Net, aku mau pergi ke toilet dulu sebentar. Kamu langsung ke kasir aja ya”, ujar Narendra berlalu. Annetha mengangguk memenuhi perintah lelaki itu.

Dikasir, Annetha masih setia menunggu Narendra kembali dari toilet. Sesekali menengok kebelakang berharap laki-laki itu muncul, tetapi tidak ada seorangpun disana. “Berapa harga buku ini mbak ?” suara berat datang dari sebelah Annetha yang mengharuskan dia menoleh. Betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok Nawashi tengah berdiri tegap disampingnya. Mata Annetha pun membulat sempurna dan jantungnya berdetak begitu kencang, “Ya tuhan, apakah ini mimpi ?”.

Nawashi yang sadar saat itu melihat ekspresi Annetha yang begitu aneh. Dia mengamati penampilan wanita tersebut dari atas kebawah. Dia menghentikan perhatiannya pada buku ‘Love Story’ yang perempuan itu pegang. “Apakah kamu juga menyukai buku itu ?”, tanya Nawashi. Annetha hanya mengangguk memberi jawaban kepadanya. “Sepertinya semua perempuan memang menyukai buku fiksi seperti ini”, ujar laki-laki itu enteng sambil menunjukkan buku yang sama dengan milik Annetha. “Kenapa dia membeli buku love story juga ?” gumam Annetha penuh keheranan. Setelah membayar tagihan buku, Nawashi berlalu keluar toko dan meninggalkan senyuman tipis kepada Annetha. Hal itu sukses membuat wajah perempuan itu merah seketika sampai tidak sengaja buku yang dia bawa jatuh ke lantai.

Narendra yang kini telah kembali dari toilet memperhatikan Annetha yang melamun, “Net, kamu kenapa ?”, sambil melambaikan tangannya didepan mata gadis itu. Seketika Annetha terkejut melihat kehadiran Narendra, “oh, emm... tidak apa-apa Ren”, jawab Annetha kebingungan. Narendra terdiam sesaat sebelum melanjutkan percakapannya, “Kita pergi ke kafe yuk Net”, ajak Narendra. “Ke kafe ? Ren ini sudah petang dan langit juga mulai mendung lagi, aku takut terlambat pulang”, ucap Annetha sambil melihat keatas langit yang mulai murung. “Kalau nanti malam kamu sibuk nggak Net ?”, tanya Narendra lagi. Annetha hanya diam menatap laki-laki di depannya, dia sebenarnya enggan keluar rumah, tapi disisi lain dia melihat wajah Narendra yang begitu berharap. “Oke, akan aku kabari nanti”, jawab Annetha akhirnya.

Setelah membayar buku, mereka berdua berjalan pulang melewati jalanan kota yang begitu ramai. Ah, tentu saja hari ini adalah malam minggu dimana banyak muda mudi menghabiskan waktu luang sekedar berjalan-jalan. Tapi sayang, itu tidak untuk Annetha yang menyandang status jomblo. Dia hanya menghabiskan malam minggu dengan ditemani coklat hangat dan sebait cerita. Namun entah angin apa yang sedang merasuki Rindi malam itu, dia merasa ingin sekali keluar rumah menghabiskan waktu liburnya. “Apa sebaiknya aku pergi ke kafe saja ya. Toh, Narendra mengajakku bertemu”, gumamnya. Tak perlu berpikir lama, Annetha langsung mengganti pakaian dengan baju sweater lengan panjang, kemudian berlalu ke salah satu kafe yang ada di kota.

“Ren, aku sekarang ada di Ruang Rindu caffee. Aku berada di meja nomer 9”, pesan singkat Annetha layangkan ke whatsapp Narendra. Annetha menghela napas panjang mengingat apa yang ia temukan di saku jaket milik Narendra tadi sore. Dia yakin surat berwarna merah muda yang ditujukan kepadanya adalah ungkapan perasaan Narendra selama ini. “Semoga turun hujan, aku tidak tahu jawaban apa yang akan aku beri pada Narendra nanti sedangkan aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya”, gumam gadis itu menatap keluar pembatas kaca yang mulai dibasahi rintikan air. “Andai saja, laki-laki itu adalah Nawashi”, senyuman terlukis dibibir wajah Annetha kini mengingat laki-laki itu berada disampingnya tadi sore. Annetha yang merasa konyol mengakhiri khayalannya sambil membuka buku ‘love story’ yang ia bawa dari rumah.

Saat pandangan Annetha mulai menemui buku fiksi itu, Annetha dikejutkan oleh sosok laki-laki yang berada tepat dua meja didepannya duduk sekarang. Laki-laki tersebut adalah Nawashi yang selama ini Annetha nantikan kehadirannya, “kenapa dia bisa ada disini ?”, ucap gadis itu dalam hati. Jantung Annetha berdetak cepat ketika melihat Nawashi yang tengah duduk di depannya menyruput secangkir kopi. Tatapan memuja kembali Annetha tampilkan hingga laki-laki itu menemui Annetha yang sedang memperhatikannya. “Apakah kamu sedang memperhatikan diriku ?”, suara berat Nawashi membuyarkan lamunan Annetha, “Ah maaf”, jawabnya cepat sambil menundukkan kepala.

Nawashi kini melangkahkan kaki menuju meja Annetha yang terlihat kosong, “Apakah kamu sedang menunggu seseorang disini ?”. Wajah merah merona tidak bisa Annetha tahan lagi, kedua bola matanya melirik kearah Nawashi sambil memegangi dada yang terasa tidak karuan. “i iya”, jawab Annetha terbata. “Berarti kita sama, sedang menunggu seseorang. Tapi sepertinya orang yang kita tunggu tidak akan datang”, ujar Nawashi memandangi langit hitam. “kenapa memangnya ?”, tanya Annetha heran. “lihatlah, hujan mulai turun lagi dari langit yang gelap”, ujar Nawashi sambil menunjuk langit.

Suasana mendadak hangat dengan ditemani secangkir kopi dan obrolan kecil seakan rintikan hujan tengah bercerita. “Memangnya kamu sedang menunggu siapa ?”, tanya Annetha memberanikan diri. “Aku sedang menunggu seorang wanita. Dia memintaku membawakan buku ini”, jawab Nawashi mengangkat buku ‘love story’ yang sama seperti milik Annetha. “Apakah dia kekasihmu ?”, Nawashi mengangguk seolah memberikan jawaban iya. Rasa kecewa menyelubungi  perasaan Annetha malam itu, karena hati pria itu ternyata sudah diisi oleh seorang wanita.

Sakit hati itu pasti, namun Annetha tetap tesenyum didepan Nawashi, dia tahu bahwa ini tidak akan penah berakhir. Saat Narendra hendak menyatakan perasaan suka kepada dirinya, hati Annetha justru tidak mau menerima. Dilain sisi, saat Annetha sedang mengagumi Nawashi, dia tahu bahwa Nawashi sudah ada yang punya. Sama seperti hujan, tiba saat tidak diharapkan, hilang saat dibutuhkan. Sungguh hujan datang diwaktu yang salah, mengagumi pria yang sama sekali tidak menaruh hati padanya. Namun, takdir tidak ada yang tahu, dia berharap suatu hari nanti Nawashi bisa menyadari akan perasaan Annetha. Dia akan selalu menyimpan perasaannya bersama hujan yang selalu tiba ingin menyapa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAU YANG MENIKAM JANTUNGKU DUA KALI

SEKUNTUM BUNGA

SEPATU USANG